Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Perpustakaan Daerah Soeman HS di Jalan Sudirman Pekanbaru semakin meningkatkan kualitas pelayanannya bagi para pengunjung, salah satunya dengan menyediakan layanan internet gratis. Sejak diresmikan pada 2009 lalu, hingga kini perpustakaan tersebut sudah melayani kurang lebih 88.000 pengunjung.

PADANG--Prihatin melihat kondisi perpustakaan yang tidak memadai, sastrawan dan penulis remaja mendeklarasikan "Komunitas Padang Membaca" di Sanggar Pelangi, Lapai, Padang, Sabtu (23/4/2011).

Dari kalangan sastrawan hadir penyair Rusli Marzuki Saria dan Wannofri Samry, serta cerpenis Yusrizal KW. Sedangkan penulis remaja mayoritas dari Sanggar Pelangi, sanggar menulis asuhan Yusrizal KW.

Deklarasi Komunitas Padang Membaca bertepatan dengan peringatan Hari Buku Internasional 23 April.Penggagas Komunitas Padang Membaca, Yusrizal KW mengatakan, komunitas tersebut dibentuk terkait berkurangnya ketersediaan buku bacaan di Kota Padang. Apalagi pasca gempa 30 September 2009 yang menghancurkan bangunan Perpustakaan Daerah Sumatera Barat. 

"Sedikitnya 700 ribu buku ludes di perpustakaan ini dan hingga kini tidak mendapat perhatian pemerintah, ini menyebabkan akses masyarakat untuk meminjam dan membaca buku menjadi terhambat," katanya.

Komunitas Padang Membaca, kata Yusrizal, akan membuat program menambah bacaan masyarakat melalui "Wakaf Buku".

"Kami akan memfasilitasi terciptanya perpustakaan di tengah masyarakat, lokasinya bisa di musala, mesjid, atau bangunan lain yang gampang diakses masyarakat," ujarnya.

Komunitas menargetkan 3 perpustakaan akan berdiri dalam tahun ini. Lokasinya tergantung daerah yang tinggi minat bacanya.

"Bukunya kami harapkan dari sumbangan para donator," katanya.

Wannofri yang juga dosen sejarah di Universitas Andalas mengatakan, kehadiran komunitas diharapkan bisa mendorong generasi muda memanfaatkan perpustakaan.

"Selama ini perpustakaan yang ada di Indonesia sebagian besar belum termanfaatkan dengan baik, apalagi jadwal kunjung perpustakaan terbatas," katanya.

Ia mencontohkan perpustakaan di Malaysia yang melayani warga hingga pukul 23.30 WIB. Sedangkan perpustakaan di Indonesia hanya melayani masyarakat hingga pukul 15.30 WIB. (pkc)