Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

oleh : Rika Evilyn

Lahirnya UU no. 25 tahun 1999 tentang otonomi daerah, Keputusan Menteri dalam negeri dan otonomi daerah no. 50 tahun 2000 dan Peraturan Daerah Provinsi Riau no. 28 tahun 2001 menjadikan kedudukan perpustakaan sebagai perangkat daerah yang diserahi wewenang, tugas dan tanggung jawab menunjang penyelenggaraan otonomi daerah. Dengan itu, perpustakaan mengadopsi visi 2020 Provinsi Riau yaitu terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan batin di Asia Tenggara tahun 2020. Maka perpustakaan pun memiliki visi: “Terwujudnya BPA (Badan Perpustakaan dan Arsip) Provinsi Riau yang profesional dalam pengelolaan perpustakaan dan arsip sebagai sumber pengetahuan dan informasi untuk menunjang visi Riau tahun 2020.

Keadaan Perpustakaan dan Visi Adopsinya

Sejak memiliki visi baru pada sekitar tahun 2001, keadaan perpustakaan tidak mengalami perubahan apapun hingga pada tahun 2008 sebuah gedung baru berlantai enam dengan bentuk fisik menyerupai buku raksasa berdiri menggantikan gedung perpustakaan daaerah yang lama. Perpustakaan kini telah memiliki gedung yang sangat layak; lokasi yang strategis, berada di pusat kota dan bersebelahan dengan kantor gubernur.

Selain fisik luar dan dalam perpustakaan, sebenarnya perpustakaan masih tetap sama seperti di lokasi sebelumnya. Layanan sirkulasi yang masih manual, komputer yang hanya digunakan oleh staff perpustakaan, dan yang terutama adalah sistem kerja staff yang tidak berubah.

Perhatian Shareholder

Perhatian pemerintah Provinsi Riau sebagai shareholder perpustakaan daerah cukup besar dengan memberikan dana bagi pembangunan gedung fisik saja sebesar Rp. 144 M. Ini suatu keuntungan bagi perpustakaan daerah karena tidak terlalu sulit untuk meyakinkan shareholdernya memberikan dana pengembangan perpustakaan. Namun, tidak selamanya keuntungan itu akan berpihak pada perpustakaan daerah. Untuk itu, perlu ada persiapan, ada perhitungan dan ada rencana untuk mengantisipasinya dengan mencari peluang agar perpustakaan survive bila dilepaskan oleh shareholdernya dan para pemimpin perpustakaan meningkat menjadi sharehoder baru.

Penerapan Program Pembangunan Perpustakaan

Ada beberapa hal dari pelaksanaan program pembangunan perpustakaan daerah ini yang tidak penting untuk dilaksanakan ataupun tidak maksimal dilaksanakan. Diantaranya perekrutan pegawai kontrak yang terlalu banyak. Dalam beberapa kali perekrutan, perpustakaan daerah melakukan perekrutan tenaga kontrak mencapai ratusan staff dengan latar belakang pendidikan yang beraneka ragam. Padahal dengan mengetahui posisi-posisi pekerjaan yang memerlukan tambahan staff, perpustakaan dapat melakukan perekrutan yang lebih terencana.

Pembuatan job description yang jelas juga akan mempengaruhi efektifitas staff perpustakaan daerah dalam bekerja. Apalagi dengan staff yang terlalu banyak, banyak pula staff senior yang menjadi malas bekerja bahkan malas datang ke kantornya. Banyak pula dari staff senior tersebut yang memperoleh ijin studi, padahal upaya peningkatan SDM dengan mengijinkan staff melanjutkan pendidikan dapat dilakukan secara bertahap sehingga tidak terlalu mempengaruhi pekerjaan sehari-hari di perpustakaan.

Belum lagi sistem barcode untuk mempermudah pekerjaan staff perpustakaan belum maksimal digunakan hingga sekarangpun sirkulasi di perpustakaan daerah masih manual.

Selain itu, program sejuta buku yang dikejar oleh perpustakaan daerah cukup merepotkan dalam pelaksanaanya karena dalam setahun saja penerbit Indonesia tidak mampu menerbitkan ribuan judul. Jadi program sejuta buku ini dapat dikategorikan gagal terlaksana.

Perpustakaan kurang terfokus pada misinya untuk menjadi pusat informasi dan dokumentasi kebudayaan melayu se-Asia Tenggara. Padahal kebudayaan Melayu bisa menjadi peluang untuk mempromosikan perpustakaan daerah ini. Saat ini saja dengan menjual design bangunan yang berbentuk Rehal Alquran raksasa, nama yang diambil dari sastrawan nasional asal Riau yaitu Soeman Hs dan sebuah ruangan yang diberi nama ‘ruang bilik melayu’ saja, perpustakaan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat dan luar daerah baik untuk penelitian, studi banding ataupun untuk melihat perpustakaan. Tentu saja banyak pengunjung yang kecewa setelah melihat bahwa apa yang telah dipublikasikan tidak seperti pada kenyataannya.

Untuk mempertahankan tingkat wisata akademis tadi, perpustakaan perlu mengumpulkan koleksi Melayu yang ada di manapun baik dalam bentuk soft copy ataupun hard copy baik yang kuno maupun yang terbaru. Perpustakaan juga perlu menjalin hubungan dengan sanggar-sanggar Melayu yang ada di Riau sehingga bisa menampilkan pertunjukan Melayu khusus bagi peneliti asing, juga perlu melakukan kerja sama dengan balai adat Melayu yang ada karena balai adat ini menjadi satu-satunya yang menyimpan informasi kebudayaan Melayu sebelum perpustakaan dan menjadi suatu keuntungan besar karena tidak adanya museum maka perpustakaan dapat mengoleksi kebudayaan Melayu lebih bebas. Selain koleksi kebudayaan Melayu yang diperkaya, staff khusus kebudayaan Melayu juga perlu dilatih agar menguasai tentang kebudayaan Melayu dan mampu berkomunikasi dengan bahasa Melayu dan bahasa internasional.

Perpustakaan daerah telah memiliki blog dan facebook, namun hanya memberikan sedikit informasi tentang kegiatan perpustakaan. Bidang ini perlu ditangani khusus agar dapat meng-up date informasi tentang kebudayaan Melayu dan kegiatan perpustakaan kepada anggota perpustakaan yang mengakses melalui internet.

Beberapa masalah teknis juga sangat tidak mendukung perkembangan perpustakaan daerah ini seperti pemilihan staff di information desk, koleksi buku yang dibagi di dua lantai padahal rak-rak yang ada masih kosong, komputer-komputer yang belum dioperasikan hanya karena belum ruangan khusus dan sebagainya.

Layanan yang Disediakan Perpustakaan

  • Ruang Kedap Suara untuk Diskusi dan Seminar

Ada dua ruangan seminar dengan kapasitas masing-masing 100 orang dan 300 orang.

  • Cafe

  • Perpustakaan Anak

Pada saat tertentu, ada kegiatan storytelling yang diadakan oleh pustakawan.

  • Hot Spot Area

Banyak pengunjung yang datang dan memanfaatkan wi-fi yang disediakan perpustakaan.

  • Ruang pemutaran film dan diskusi film

  • Blog dan facebook perpustakaan

Di blog dan facebook pengunjung bisa meninggalkan komentar ataupun pertanyaan seputar perpustakaan dan kegiatannya.

Yang sangat baik dari semua layanan di atas, perpustakaan dibuka setiap hari kecuali hari libur nasional dan dibuka hingga jam delapan malam sehingga banyak pengunjung yang bisa memanfaatkan layanan perpustakaan.

Perpustakaan Daerah Provinsi Riau sebagai Pusat Kebudayaan Melayu se-Asia Tenggara

Pernyataan ini menjadi sebuah tantangan yang besar bagi staff perpustakaan. Menjadi perpustakaan yang bertaraf internasional bukan hal yang mudah, namun bukan pula hal yang tidak bisa dicapai. Perpustakaan menjadi pusat kebudayaan Melayu menunjukkan bahwa perpustakaan daerah mampu memberikan informasi, mendokumentasikan kebudayaan melayu dan memaparkan perbedaan kebudayaan-kebudayaan Melayu yang ada di Indonesia dan di Asia Tenggara.

Dengan memiliki informasi dan dokumentasi semua jenis kebudayaan Melayu di Indonesia dan di Asia Tenggara, perpustakaan dapat menikmati keuntungan dari penelitian dan kunjungan (wisata pendidikan) yang ingin mengetahui tentang kebudayaan Melayu. Selain itu, kebudayaan Melayu juga bisa terjaga kelestariannya. Menitikberatkan perpustakaan daerah pada kebudayaan daerah setempat merupakan hal yang bijak karena kebudayaan termasuk aset yang stabil dan selalu ada peminatnya.

Nikmati Kenyamanan Sepenuhnya di Perpustakaan (Spent Your Time in the Library)

Moto ini menunjukkan keadaan yang nyaman dan menyenangkan yang dimiliki oleh perpustakaan. Pengunjung bisa betah berlama-lama di perpustakaan untuk akses internet, untuk mencari informasi sambil menikmati kopi di cafe, atau menemani anak yang sibuk membolak-balik buku cerita atau bertemu staff perpustakaan yang ramah. Tidak lupa juga pengunjung dapat menikmati keindahan dan keanekaragaman budaya Melayu se-Indonesia dan se-Asia Tenggara di ruang ‘Bilik Melayu’.

Perpustakaan dari dulu merupakan tempat yang kaku, berisi penuh dengan buku mungkin sekarang dengan komputer. Namun image itu perlu dirubah, perpustakaan perlu menjadi tempat yang memanjakan pengunjungnya dengan hal-hal yang disukai oleh pengunjung. Berubah menjadi one stop services dan berbasis customer service dengan mengunggulkan satu bidang kajian akan lebih baik, yaitu kebudayaan daerah seperti kebudayaan Melayu.