Change Font Size

Change Screen

Change Profile

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Laporan DESRIANDI CHANDRA, Pekanbaru desriandrichandra@riaupos.com
Jembatan Siak I atau lebih dikenal dengan nama Jembatan Leighton, tanpa terasa  kini usianya telah mencapai 33 tahun. Pasca runtuhnya Jembatan Kartanegara di  Kalimantan Timur, publik Riau khususnya Pekanbaru kian was was dengan kondisi  jembatan yang sempat dinyatakan terancam runtuh ini.
 Jembatan Leighton merupakan jembatan ‘raksasa’ pertama di Pekanbaru. Dibangun  T Caltex Pasific Indonesia (CPI) -sekarang Chevron- dan telah diserahkan ke Provinsi Riau tahun 1978.
Jembatan dengan bentangan yang panjang lebih 100 meter ini dibangun untuk membuka akses Pekanbaru-Rumbai dan memperlancar akses dari PT CPI sendiri. 

Ketika itu, transportasi masyarakat sehari-hari menggunakan kapal penyeberangan. Dulu, tak jarang masyarakat mengabadikan jembatan dengan berfoto di sana. Kini, kenyamanannya mulai berkurang.
Tiap melintasi jembatan Siak I, bunyi-bunyi baja jembatan ditambah getaran saat berpapasan dengan kendaraan besar (sebelum diberi portal), membuat warga yang tinggal persis di sekitar jembatan tak merasa nyaman.
Sekarang takut saja melintasi jembatan ini. Serasa bergoyang dan bergetar. Tambah besi melintang di badan jembatan banyak yang patah dan bolong nampak ke bawah,’’ kata Ino (44) warga Jalan DI Panjaitan, yang persis di ruas jalan di bawah Jembatan Siak I.
 Menurut wanita paruh baya itu, Kamis (1/12), dia memang tinggal di dekat jembatan sejak kecil. ‘’Saya memang lahir di sini,’’ ujarnya.
 Ini juga dialami Lili (30) yang juga tinggal di kawasan itu. Apalagi dia tiap hari harus pergi ke Rumbai untuk bekerja. ‘’Tak mungkin mengelakkan Jembatan Siak I dan kecemasan itu tiap hari saya rasakan tatkala menyeberanginya,’’ bebernya.